Rabu, 02 Mei 2012

PABBSI Sumut


PABBSI Sumut
Gedung Megah. Peralatan Parah


Pelatih dan para atlet angkat besi dan berat Sumatera Utara yang dipersiapkan untuk  PON XVIII Riau, September  2012  mendatang di Riau. 
"Ada dua keterkejutan saya ketika menginjakkan kaki di Gedung PABSI Sumut ini. Yang satu terkejut karena kagum. Karena gedungnya yang besar dan megah. Menurut saya ini yang terbesar di seluruh Indonesia. Satunya lagi, saya terkejut karena miris melihat kondisi di dalamnya. Peralatannya sudah tua, sudah tak lagi layak pakai," papar Rusli , pria asal Lampung, yang ditunjuk Pengprov Persatuan Angkat Besi dan Berat Seluruh Indonesia (PABBSI) Sumatera Utara, menjadi pelatih di PABBSI Sumut.
Hal yang paling mendasar untuk menunjang prestasi dan prestise atlet yang dilatihnya telah dilambungkan Rusli secara lisan kepada pengurus PABBSI Sumut, yakni Ketua Harian Azzam Rizal . “Sejak awal saya sudah usulkan agar peralatannya diganti. Seperti batangan besi atau stick yang sudah baling dan tidak layak untuk dipakai lagi. Setidaknya kita harus mengacu pada peralatan yang telah di standartkan oleh International Weightlifting Federation (IWF),” urainya lagi.
Pelatih berpengalaman itu juga menyayangkan, apabila potensi besar yang ada pada atlet angkat besi dan berat Sumatera Utara, seperti  Goncalwes Sirait , Faebolo Dodo Gowasa ,  Teguh, Mustaqin, Rusli dan satu-satunya atlet putri, Mona, tidak dianggap sama sekali. “Sangat disayangkan apabila bakat dan potensi yang Tuhan berikan pada mereka terabaikan begitu saja , hanya gara-gara peralatan yang tidak mendukung. Alangkah cantiknya, kalau mereka bisa didukung dengan peralatan yang layak. Saya optimistis, bila peralatan yang dibutuhkan itu tersedia, mereka pasti mampu berbicara di pentas nasional,” ujar Rusli yakin.
Namun keoptimisan pelatih nasional yang sejak Januari 2012 lalu telah melatih di Gedung PABBSI Sumut itu hingga kini masih belum terjawab. Pasalnya, peralatan tua yang ada di gedung itu sejak 2004 silam , belum diganti dan masih saja digunakan. Malah, kesangsian yang sejak awal dirasakannya telah pula mendera atletnya, yakni cidera.
Ya, cidera kini telah dialami oleh atlet prioritas KONI Sumut yang diprediksi bakal meraup medali pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII di Riau, September mendatang, yaitu atlet angkat berat, Faebolo Dodo Gowasa dan Goncalwes Sirait. Kedua atlet prioritas Koni Sumut itu cedera, kemungkinan besar karena menggunakan peralatan tua yang tidak lagi layak pakai milik Pengprov PABBSI Sumut tersebut.
Cedera yang dialami Faebolo Dodo Gowasa, dirasakan Rusli sangat mengkhawatirkan. Pemecah rekor dunia pada perhelatan Pekan Olahraga Kota (Porkot) Medan 2011 silam, mengalami cedera otot yang cukup serius di selangkangannya. Pastinya, cederanya tersebut dapat mempengaruhi persiapan PON XVIII yang tak kurang dari 130 hari lagi bakal di helat.
“Saya telah melaporkan perihal cedera saya pada pengurus. Tapi saya hanya diarahkan agar bertemu dengan masseur KONI Sumut untuk diperiksa. Saya tidak langsung menemui masseur itu. Yang saya temui pengurus Koni Sumut, Pak Prof Agung. Beliau cukup terkejut mengetahui kondisi yang saya alami. Dia meminta saya agar menemui pakar yang mengetahui tentang cedera saya. Makanya saya tak tau lagi mau berbuat apa,” bilang Faebolo, saat ditemui , Selasa (1/5) Di gedung PABBSI Sumut.
Selain Faebolo Dodo Gowasa, atlet angkat berat proyeksi medali bagi kontingen Sumut lainnya, Goncalwes Sirait saat ini juga mengalami cedera ringan di seputar tulang ekornya. Kedua atlet binaan KONI Medan yang diharapkan akan mendulang medali kehormatan bagi Provinsi Sumatera Utara itu, merupakan ‘korban’ ketidaklayakan alat yang saat ini masih digunakan PABBSI Sumut. “Tak usahlah muluk-muluk untuk try out ke luar negeri. Dipenuhi saja peralatan yang memadai disini , mereka (atlet) sudah cukup senang. Kalau tidak juga diganti, saya khawatir akan bertambah lagi atlet yang bakal cedera, “ pungkas Rusli .(Noel)    

      

  

Sabtu, 17 Maret 2012

Goncalwes dan Daud Gowasa : Optimistis Emas !


 "Mereka ini sangat berpotensi dan memiliki talenta yang luar biasa. Hanya saja program latihan yang mereka laksanakan selama ini, kelemahannya di angkatan bench press," urai Rusli, pelatih angkat besi Sumatera Utara.
Rusli menilai, dua atlit angkat berat asal Kota Medan , Faebolo Dodo Gowasa dan Goncalwes Sirait yang meraih prestasi di TOP LIFTER/Test Event PON,di Pekanbaru Riau, 23-27 Februari lalu, meski memperoleh hasil yang cukup membanggakan, pelatih itu merasakan, kalau 'kekuatan' keduanya masih belum dikeluarkan maksimal.
Seperti halnya, Faebolo Dodo Gowasa, atlit angkat berat Kota Medan yang berhasil memecahkan rekor dunia pada PORKOT Medan 2011 lalu, yang saat ini naik kelas, dari kelas 59 kg ke 66 kg, meraih medali perak dengan angkatan total 690 kg di Tes Event PON tersebut , meliputi angkatan squat,bench press dan dead lift.  Faebolo Dodo Gowasa kalah bersaing dengan atlit Lampung, Viky Aryanto yang memiliki nilai total angkatan 755 kg.
"Mungkin saya belum beruntung. Saya gagal saat mengangkat angkatan squat 317 kg. Saya juga tak maksimal diangkatan bench press," ujar Faebolo Dodo, yang akrab dipanggil, Daud Gowasa.
Sedangkan Goncalwes Sirait, yang turun di kelas 120 kg, memperoleh medali emas di gelaran yang sama. Namun, atlit angkat berat yang berhasil mempertahankan pencapaian prestasi pada pra PON, November 2011 silam, masih belum puas. "Sama dengan Daud, saya juga lemah di angkatan bench press. Tapi, kami akan terus berupaya utuk meningkatkan latihan pada angkatan itu," tukas Goncalwes.
Karenanya. Rusli,mantan pelatih angkat berat Provinsi Lampung, yang sejak Januari lalu telah ditunjuk Pengurus Provinsi Persatuan Angkat Besi Berat Seluruh Indonesia (PABBSI) Sumatera Utara, untuk melatih angkat besi, bersedia memberi masukan kepada kedua atlit angkat berat binaan KONI Medan tersebut.
"Masih sangat-sangat bisa bagi keduanya untuk membenahi angkatan bench press mereka. Apalagi alat peraga di ruang fitness KONI Medan sudah sangat layak dan mendukung untuk itu. Mungkin selama ini tak ada yang mengarahkan keduanya, tentang kelemahan mereka pada otot lengan untuk angkatan bench press,” ujar Rusli.
Meskipun Rusli ditunjuk oleh PABBSI Sumut untuk melatih angkat besi, namun arahan dari pelatih tersebut sangat dibutuhkan Daud dan Goncalwes. "Tinggal mengintensifkan latihan dan lebih sering dilakukan sparing. Saya berani menggaransi, kalau target medali emas pada PON Riau nanti, akan diperoleh keduanya," pungkas Rusli yakin. (nul)

Kamis, 16 Februari 2012

Dispora dan Komisi C DPRD Labura

Add caption

Konsultasi dan Koordinasi ke Disporasu

Medan-Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Labuhan Batu Utara (Labura)  bersama Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Labura mengadakan pertemuan konsultasi & koordinasi dengan Dinas pemuda dan Olahraga Sumatera Utara , yang diterima langsung oleh Kadisporasu Ristanto SH SPn diruang kerjanya, Kamis (16/2).
Pertemuan yang bersifat silaturrahmi itu berbagi pengalaman dengan membahas sistem manajemen dalam mengelola anggaran.
Dalam arahannya, Kadisporasu Ristanto SH SPn mengatakan, bahwa pertemuan ini penting dan strategis karena membahas penyelenggaraan administrasi tata kelola pemerintahan yang baik demi peningkatan kualitas bina pemuda dan keolahragaan di daerah.
Kadisporasu yang didampingi Kabid Bina Olahraga Drs Darwis Siregar dan Kabid Bina Pemuda M Thohir SPd, ikut memberi keterangan pada bidang masing-masing.
Pada pemaparan konsultasi & koordinasi tersebut, 10  anggota DPRD Labura dari Komisi C serta Kadispora Labura, Hery Wahyudi Marpaung STTP MAP, mengaku cukup puas dengan hasil pertemuan tersebut. Nul

Selasa, 25 Oktober 2011

Pengurus Cabang PODSI Medan Dilantik

Para Pengurus Cabang PODSI Kota Medan bersama Kadispora Medan Hanas Hasibuan dan Ketum Pengrop PODSI Sumut, DR Januari Siregar SH M Hum, usai pelantikan di Dermaga Sundari Belawan, belum lama ini. (ariyanul) 

Ajang Pekan Olahraga Kota (PORKOT)MedanIII/2011 menjadi momen spesial bagi Pengurus Cabang Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Kota Medan - priode 2011- 2015, Kamis (20/10). 
Bagaimana tidak,persis sebelum pada gelaran lomba dayung pada perhelatan PORKOT Medan III itu, para pengurus Pengcab PODSI Medan terlebih dulu dilantik oleh Ketua Umum Pengprop PODSI Sumatera Utara, DR Januari Siregar SH M Hum, di Dermaga Sundari, Belawan.
Pada sambutannya, Ketua Umum PODSI Sumatera Utara DR Januari Siregar SH MHum menyampaikan, bahwasanya olahraga dayung merupakan cabor prestasi yang kompetitif dengan saling bekerjasama. "Olahraga dayung mempunyai aturan-aturan yang harus dijalankan.Didalam pelaksanaannya ada rasa sportif dan semangat juang yang tinggi. Karenanya, sudah beberapa kali di even internasional Indonesia meraih prestasi," kata Januari.
Januari berharap kepada para pengurus yang baru dilantik, agar serta merta selalu bekerjasama untuk membangun prestasi dan kepada pedayung, agar sungguh-sungguh berlatih.
Sebelumnya, pada kesempatan tersebut Kadispora Medan, Hanas Hasibuan, menyampaikan amanat Walikota Medan. “Olahraga dayung merupakan olahraga ketangkasan dan ketahanan yang memerlukan kerja keras dan kerjasama. Kita sama berharap, melalui olahraga ini kita dapat kembali membuat bangga bangsa dengan mengibarkan merah putih dan mengumandangkan lagu Indonesia Raya di mancanegara,” ujarnya.
Kadispora Medan ini juga menyatakan pihaknya siap bekerjasama untuk turut serta memajukan cabang olahraga dayung di Kota Medan.
Sama harapannya, Patar Panjaitan, Ketua Koni Kecamatan Medan Belawan yang mewakili KONI Kota Medan,juga menyatakan pihak KONI Medan siap bekerjasama untuk memajukan olahraga dayung. “Kami berharap pemerintah untuk selalu mendukung kinerja Pengcab PODSI Medan dengan memperhatikan dan membantu sarana prasarana cabang olahraga yang ada,” ungkapnya.
Adapun pengurus Pencab PODSI Medan yang dilantik antara lain, Restu Utama Pencawan SH Spd - Ketua Umum PODSI Medan.  Kapten (L)  Nelson Ginting ST SH, Ketua Harian, Sekretaris : Jumianto SPd. Bendahara : Fitrizal. Wakil Bendahara, Nurfatlah Batubara AMd. (Ariyanul)

Rabu, 10 Agustus 2011

Drs Darwis Siregar (Kepala Bidang Bina Keolahragaan Disporasu)

Drs Darwis Siregar
Sederhana dan Bekerja Dengan Hati

Tak ada 'surprise' ataupun kejutan untuk suatu tanggung jawab pekerjaan, meskipun itu menyangkut sebuah jabatan yang baru diemban . Sebab, bagi Drs Darwis Siregar (foto), jabatan merupakan sebuah amanah yang bukan hanya dipertanggungjawabkan didunia,pekerjaan yang menyangkut kebutuhan orang banyak, harus juga dipertanggungjawabkan di akhirat.
Sederhana. Itu yang terlintas saat melihat sosok Kepala Bidang Bina Keolahragaan di Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sumatra Utara,yang menggantikan kedudukan H   Sakiruddin SE MM, sejak 10 Juni 2011 silam. Tak ada perubahan yang berarti dari dirinya setelah menjabat di posisi barunya tersebut. Dikeseharian menjalani pekerjaannya, seorang Darwis Siregar, tetap melayani dan santun pada rekan sekerjanya. "Saya lebih melihat sisi tanggung jawab pekerjaan ini daripada prestisenya (wibawa-red). Saya harus lebih mengutamakan pekerjaan dan harus bekerja lebih keras, agar amanah ini lebih bermanfaat," tuturnya.
Ayah tiga orang anak, kelahiran Sei Kepayang Asahan, 10 Februari 1958 ini mengaku tidak mengalami kesulitan menjalani pekerjaan diposisinya sekarang ini. Dapat dimaklumi, suami dari Zuraida Pane ini, sejak tahun 2005 silam merupakan pegawai  di Disporasu. Darwis juga merupakan staff langsung dari pejabat lama , H Sakiruddin SE MM. “Kami cukup akrab. Beliau (Sakiruddin – red)juga selalu siap membantu saya. Banyak yang dapat dipetik pelajaran atau pengalaman dari diri beliau selama ini,” ujar Darwis.
Karir pada jabatannya kini harus dijalani dengan tanggung jawab sepenuh hati, dan tetap disyukuri. Lantas apa yang harus disegerakan oleh Kabid Bina Keolahragaan Disporasu yang baru ini? “Kuncinya sederhana, bekerjalah dengan  hati”,” katanya.
Darwis menyebutkan bekerja dengan hati artinya bekerja dengat tulus ikhlas. Meskipun tak cukup dengan itu, bekerja harus memiliki prinsip yang selalu berupaya bekerja dengan cerdas dan menjalin kerja sama yang baik dengan rekan kerja.
“Jadi tidak bisa hanya sekadar bekerja keras. Karena nantinya yang dapat cuma capek. Tapi bila tiga ini dikombinasikan, kesuksesan bisa diraih,” katanya yakin.
Dengan kesederhanaan, Darwis Siregar selalu mengingatkan diri sendiri untuk bisa menjadi inspirasi rekan kerja lainnya. Misalnya, kalau ingin mengubah sesuatu yang mengarah pada pelayanan yang prima, harus dimulai dari pemimpinnya.
“Karenanya untuk itu saya mengajak kawan-kawan di bidang keolahragaan Disporasu agar saling bahu membahu serta menyatukan langkah untuk melaksanakan program kerja dengan baik, menuju sukses bersama," pungkasnya. (Ariyanul)

    
Biodata
Nama : Drs Darwis Siregar
Jabatan: Kabid Bina Keolahragaan Disporasu
Istri : Zuraida (PNS Dinas Kesehatan Pemko Medan)
Anak - anak :
Fahmi H Siregar   ( Program S2 Universitas Gajah Mada)
Rayhan R Siregar (Mahasiswa Fak Tekhik Universitas sumatera Utara)
Gilang R Siregar   (SLTA)

Karir Pekerjaan
-          1985 – 1993 Masuk PNS /bertugas di Kanwil Depdiknas Sumut
-          1994 – 2000 Kepala Seksi Kebudayaan di Diknas Sumatra Utara
-          2000 – 2002 Staff di Dinas Pariwisata Sumatra Utara
-          2003 – 2005 Kepala Seksi Pemberdayaan Kesenia di Dinas Pariwisata Sumut
-          2005 – 2011 Staff di Disporasu
-          2011 - ……..  Kepala Bidang Bina Keolahragaan Dispora Sumut

 

Siti Amalia “Nasa” Nasuha

Siti Amalia “Nasa” Nasuha
Ingin Menjadi Pesilat Sesungguhnya


Mensana in corpore sano, di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Ini merupakan sebuah motto atau ungkapan yang jelas-jelas menginformasikan, jika ingin sehat jiwa, maka badan harus sehat terlebihdulu.
Nah, bela diri sebagai satu cabang olah raga, selain untuk menjaga diri dari penyakit, ternyata dapat juga menjaga diri dari berbagai ancaman. Dengan mendalami olah raga bela diri,Siti Amalia Nasuha (foto), dapat memperoleh keduanya, dapat sehat sekaligus dapat menjaga diri dari hal-hal yang tak diinginkannya.
Olah raga bela diri yang ditekuni dan dipilih Nasa, demikian panggilan akrab Siti Amalia Nasuha, adalah pencak silat. Pencak silat yang merupakan olahraga bela diri tradisional warisan leluhur,menurut gadis cantik, kelahiran Medan,14 November 1995 ini, memiliki daya tarik yang unik." Pencaksilat bagiku merupakan sebuah ilmu atau keterampilan untuk menjaga diri dari berbagai ancaman dari luar diri. Hal ini merupakan bentuk kesadaran untuk menjaga eksistensi diri dalam kehidupan. Pencak Silat juga mengajarkan ketaqwaan, kejernihan berpikir, mental dan mempertebal iman. Sebab pencak Silat umumnya membimbing kita ke jalan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan akhlak yang baik, sehingga kita dapat menjaga diri dengan baik pula,"," ujar Nasa.
 Nasa, duduk paling kanan beserta pelatih dan rekan di PPLP Sumut

Nasa mengaku, mengenal pencaksilat belum lama, baru dua tahun, sekitar tahun 2009, saat dirinya masih duduk di kelas III SMP." Aku mengenalnya dari tetangga dan sering ikut dengannya saat latihan. Lama-lama aku tertarik dan mulai menekuninya," Kisa Nasa.
Tak lama berkutat di pencaksilat, Nasa mampu mencetak prestasi mewakili Kecamatan Medan Polonia pada Pekan Olahraga Kota (PORKOT) Medan 2010. Meski hanya memperoleh medali perak, ajang Pekan Olahraga Daerah Sumut bisa juga dijajalnya. "Tapi aku belum menghasilkan prestasi yang memuaskan,"bilang Nasa.
Saat ini, ketika teman-temannya di cabang olahraga pencaksilat pada Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Provinsi Sumatera Utara, tengah bersiap latihan menuju ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) Riau, Oktober mendatang, Nasa hanya dapat mengurut dada. “Saya belum terpilih mengikuti popnas,” ujarnya.
Tidak terpilih, bukan berarti Nasa harus ‘patah arang’. Cewek bekulit putih, putri keempat,5 bersaudara anak pasangan H Gunar Wisono dan Parsiah tetap menyiratkan semangat. “Aku harus lebih giat berlatih, prestasi pasti kuraih,” ujar Nasa ,bertekad.
Ketebalan tekad Nasa, terdorong dari rekan-rekannya sesama atlit silat di PPLP yang beralamat di Sunggal tersebut. “Mereka rata-rata merupakan pesilat yang telah mencetak prestasi. Karenanya aku akan seperti itu nanntinya,” bilang murid PPLP Sumut kelas II Yaspen Mulia ini.
Nasa yang mengidolakan pesilat Abbas Akbar, ingin mengejawantahkan keperibadian sosok idolanya tersebut pada sikap keseharian pada dirinya sendiri.”Saya mengidolakan pesilat Abbas Akbar karena kehebatannya pada pengendalian diri, tidak sombong meski tenar. Selalu intropeksi diri pada setiap kemenangan yang diraih. Sisi –sisi seperti ini yang tentunya menjadi acuanku, untuk bisa menjadi pesilat yang sesungguhnya,” pungkas Nasa.(ariyanul)

Senin, 27 Oktober 2008

Competititon Boat Race for Royal Trophy Narathiwat Product Festival 2008, Thailand Selatan


Dangdut dan Capai 8 Besar

Senin, 21 Oktober 2008 silam, rombongan kami dari Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Sumatera Utara bertolak menuju Narathiwat, Thailand Selatan. Kedatangan kami yang berjumlah 29 orang (atlit dan official) sebagai wakil Indonesia, untuk memenuhi undangan Sport and Tourism Authority of Thailand, mengikuti kejuaraan perahu tradisional yang setiap tahunnya selalu dilaksanakan disana, Competititon Boat Race for Royal Trophy Narathiwat Product Festival di muara Sungai Bangnara, Narathiwat.
Kondisi kota yang pernah menggegerkan dunia akibat konflik bernuansa agama itu sempat juga mengganggu fikiran. Namun, salah seorang staff di Sport and Tourism Authority of Thailand, Muhammad Yusuf bin Sulaiman,keturunan Melayu Thai, meyakinkan pimpinan kontingen Indonesia, Mazrinal Nasution SE MAP, menyebutkan kalau situasi Kota Narathiwat kini telah berangsur aman dan terkendali.
----------------------------------------------------------- 
Setelah mendapat restu dari Kadispora Sumut Drs Ardjoni Munir M Pd, yang diwakili oleh Kasubdis Sarana dan Prasarana Disporasu Drs Sujamrat Amro MM dan Ketua KONI Sumut, yang diwakili oleh Prof Agung Sunarno,rombongan kami berangkat menuju bandara Internasional Penang. Sesampainya di 'sister city' nya Kota Medan itu, kontingen dayung Indonesia langsung diangkut oleh 'bas pesiaran' (bus parawisata-red) dari travel biro Penang yang telah dipesan khusus oleh dinas Parawisata Provinsi Narathiwat itu.
Sepanjang perjalanan dari Penang,Kedah hingga batas negara, Bukit Kayu Hitam Malaysia, suasananya begitu nyaman. Boleh jadi karena pengelolaan tata daerah negara bagian Malaysia itu telah demikian profesional, sehingga sepanjang perjalanan, mata memandang seolah dimanjakan dengan alam yang tertata baik lagi bersih.
Namun, sesampainya dibatas wilayah Thailand, Sadao, kondisi salahsatu provinsi dari 76 wilayah di Thailand itu, tak lebih dari situasi sehari-hari di Medan. Penempatan papan reklame serta poster pemilihan calon legislatif  yang tumpang tindih bertebaran acak dimana-mana. Hanya yang menarik perhatian adalah penempatan lukisan Raja Thailand Bhumibol Adulyadej dan permaisuri serta keluarganya terbingkai apik disetiap persimpangan hampir diseluruh wilayah Thailand.
Melewati Sadao, suasana mulai terasa mencekam. Soalnya memasuki wilayah Provinsi Pattani, salahsatu dari tiga wilayah (narathiwat dan Yala) yang pernah mengalami persolan krusial di Thailand tersebut, suasananya mirip-mirip berita di TV, saat militer AS menduduki Irak. Military checkpoint alias barikade militer hampir setiap 10 km per perjalanan kerap mengiringi perjalanan kami, sehingga memperlambat laju bus yang kami tumpangi.
barikade militer hampir setiap 10 km mengiringi perjalanan kami 
Memasuki wilayah Pattani, warna budaya muslim langsung terasa. Masjid-masjid  di sepanjang perjalanan, serta para muslimah berjilbab. Tua muda mengenakan kain sarung dan lobe, pejalan kaki atau yang naik spedamotor tanpa mengenakan helm berseliweran. Padahal, Thailand yang menetapkan Buddha sebagai agama negara justru absen di wilayah tersebut.
Pengamanan ketat dan darurat militer tak resmi di Pattani,  Narathiwat dan Yala, konon sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Sama tuanya dengan momen ketika ketiga provinsi tersebut dilebur ke dalam Kerajaan Siam melalui perjanjian sepihak oleh kolonial Inggris pada awal abad ke-20. Padahal, sebelum dipaksa bergabung dengan Siam, ke tiga wilayah itu adalah Kesultanan Islam yang tersohor sebagai salah satu pusat studi Islam di Asia Tenggara.
Sesampainya di Narathiwat, setelah menempuh 6 jam perjalanan, waktu menunjukkan pukul 17.55 (waktu di Thailand mirip dengan penggunaan waktu WIB-red), bus rombongan berhenti di kedai nasi Haji Naseer (juga Melayu Thai). Rupanya rombongan lebih lama satu jam tiba disitu akibat delay pesawat serta segala tetek bengek urusan yang berlaku. Rombongan telah ditunggu oleh Ahman Muh-Adam, Kepala Dinas pariwisata di tiga wilayah tersebut.
Sambutan dari tuan rumah demikian ramah dan langsung akrab. Sajian kuliner khas selatan Thailand yakni , tom yam serta lauk lainnya telah tersaji di meja makan (konon  tom yam yang sangat popular itu, merupakan kuliner asli dari tiga wilayah Thailand Selatan, Pattani,Yala dan Narathiwat-red) langsung dilahap seluruh rombongan . Dan, kedai Haji Naseer pun kemudian ditetapkan panitia lomba sebagai tempat makan siang dan malam rombongan dayung Indonesia. Usai makan kami langsung menuju tempat penginapan, Hotel Tanyong (orang setempat mengucapnya dengan sebutan Hotel Tanjung).

Dijamu Gubernur Narathiwat

Keberadaan tim dayung Indonesia di Narathiwat sangat berkesan. Malam kedua,(Kontingen Indonesia 6 malam disana-red) rombongan disambut begitu special. Tak tanggung-tanggung, Gubernur Narathiwat sengaja menggelar 'Welcome Party' untuk kehadiran kami .
Pimpinan rombongan, Mazrinal Nasution SE MAP serta Pengurus PODSI Sumut dan Medan, Awel dan Drs Ali Usman, serta Pelatih Dayung Sumut , Drs John Poltak Purba serta seluruh atlit disambut ramah oleh Voice Governor of Narathiwat (wakil Gubernur) Nikphorn Nara Pittakul serta Ketua Bandar (walikota) Narathiwat  dan jajarannya. Sang Wakil Gubernur ini pun menyampaikan salam dari Gubernur, kalau orang nomor satu di Narathiwat itu masih ada kegiatan lain yang harus dihadiri.
Rasa haru pun diungkapkan ketua rombongan , Mazrinal Nasution usai menerima bingkisan cinderamata miniatur Kolek Boat dari pemerintahan setempat. "Kami merasa sangat special dan tersanjung menerima undangan dari pemerintah Thailand ini, khususnya pada pihak Tourism Authority of Thailand. Upaya kami pastinya berusaha untuk membalas segala keramahan yang telah kami terima. Mudah-mudahan pertengahan Mei tahun 2009, kami dapat merealisasikannya dengan mengundang pihak anda untuk mengikuti Festival Olahraga Pemuda Bahari yang dipusatkan di Danau Toba, kota wisata Prapat. Andai ini tercapai, kami juga akan mengajak anda menikmati keindahan alam lainnya di Sumatera Utara seperti, Brastagi di Tanah Karo serta Bukit Lawang di Langkat," bilang Mazrinal di podium Ballroom The Imperial Narathiwat Hotel, di tempat penyambutan tersebut.      
Selain makan malam, rombongan dihibur oleh tarian Kolek boat khas Narathiwat yang dibawakan anak-anak. Selain itu ada yang mengejutkan rombongan, yakni penyanyi organ tunggal (keyboard-red) asal Narathiwat, yang melantunkan lagu –lagu yang pernah dipopulerkan oleh H Mansyur Syah dan H Jaja Miharja.
Spontan, mendengar lagu made in Indonesia itu, perasaan bangga pun tersirat dibenak masing-masing rombongan kami. Artinya, sudah sedemikian populernya musik asli Indonesia ini, sehingga menjadi kegemaran di negeri orang.
Hal itu juga sempat membuat pangling Gubernur Narathiwat, Winai Kuruk Whanphat, yang menyempatkan diri hadir disitu. "Beliau sempat menanyakan kepada kami, apakah Indonesia membawa sendiri penyanyinya ke Narathiwat ini," kata Moosa Yako, seorang staff dinas pariwisata Narathiwat.
Bukan itu saja, kepopuleran dangdut juga menyinggahi tempat hiburan di tempat rombongan kami menginap. Di salahsatu ruang entertainment Hotel Tanyong, tempat hiburannya diberi nama "Perdana Dangdut".

Hanya Sampai 8 Besar

Kesuksesan rombongan bisa tiba dengan aman dan selamat di daerah konflik yang selalu dijaga ketat oleh pihak militer Thailand itu tak diikuti sukses para atlit (Indonesia merupakan satu-satunya peserta dari luar Thailand,dari 19 tim yang turut memeriahkan kompetisi tersebut. Sementara 2 wakil Malaysia yang juga turut diundang, tidak memberikan alasan yang jelas mengenai ketidakhadirannya-red) yang berlomba di kompetisi tersebut. Amat cs hanya tertambat di level 8 besar.
"Kita mengalami kesulitan. Biasanya kalau kita latihan di Belawan kita memakai perahu berbahan fiber. Sedangkan yang kita pakai untuk lomba disini, perahunya dari kayu dan masing-masing perahu kualitasnya pun berbeda dan telah ditetapkan oleh panitia," sebut pelatih dayung Sumut, Jhon poltak Purba.
Alasan tersebut dapat dimaklumi, karena saat melakukan pertandingan dengan juara musim lalu, tim Geriga, tim Indonesia sebenarnya mampu menandinginya namun harus menguras tenaga sekuatnya, namun perahu tim Geriga lebih panjang dan ramping sehingga melaju cepat meski tak harus ngotot seperti atlit dayung Indonesia.
Walaupun gagal di babak awal, pada babak penyisihan , Amat CS mampu menjungkalkan tim tuan rumah lain asal Narathiwat dengan perbedaan yang mencolok. Sayang, pada saat penentuan untuk menuju semifinal, tim asuhan Jhon Poltak itu kembali menghadapi tim Geriga, namun kali ini dengan tiga kali bertanding . Belakangan, Tim Geriga kemudian tampil menjadi runner up pada kejuaraan memperebutkan Piala Raja Thailand, setelah dikalahkan tim Askar Laut Thailand.
Urung mencapai target yang telah disepakati sebelumnya, para pedayung tetap disemangati oleh para official. "Kita memaklumi medan dan sarana yang disediakan. Ini merupakan pengalaman berbeda dari kegiatan yang pernah kita geluti. Perlombaan di Thailand ini betul-betul dengan konsepnya, yakni tradisional. Dengan menggunakan perahu kayu khas Narathiwat. Hanya saja yang berbeda kerampingan serta panjang perahu. Sepatutnya panitia menentukan keseragaman perahu dan dayung yang disediakan. Agar perlombaannya menjadi lebih fair play dan tidak dapat dijadikan alasan oleh peserta lomba," sebut Ali Usman, pengurus PODSI Medan, yang juga staff di Dinas Perikanan Pemko Medan, Dalam perjalanan menuju pulang,ke Medan,Indonesia. Rombongan tiba dengan selamat di Medan, Minggu,26 Oktober 2008. (anoel)